Minggu, 29 November 2020

Catatan Rindu


Aku duduk menggigil, menahan dingin yang menusuk kulit namun tak jua bisa udara dingin seakan memaksa masuk dan menancapkan jarum di kulit. Namun jemariku tetap bergerak menulis menceritakan sedikit hal agar hati sedikit lega, tenanglah aku cuma sedikit sakit, hal semacam ini tak membuatku berhenti menulis, bukan karena aku juara menulis tapi jika tidak menulis aku tak bisa sejenak mengalihkan dari kegelisahan ini, kegelisahan yang mencengkeram hati sampai seekor singa pun menangis. 

Hujan rintik, membawakan aroma tanah yang harum, suaranya gemeritik mengenai atap galvalum rumahku, seakan menjadi lagu penghibur hati yang gelisah. Aku menghela nafas mencoba mengurangi sedikit sesak yang menghimpit, tapi masih saja sama tak ada yang berubah. Kenapa tidak kau ceritakan saja pada orang agar bebanmu berkurang? Tidak, aku memilih meniyimpan sendirian, siapa yang dapat menjamin mereka tak akan bercerita... 




 

Yang Terserak


Ada sesuatu di sana, jauh dalam sudut kerinduan hati yang tersera, pecah berhamburan menjadi keping-keping kecil ketika mendengar komentar yang seakan sangat mudah diucapkan, tanpa memikirkan wajah yang memerah cari saja wanita yang mau, jelek atau apapun yang penting segera menikah- duhai seperti itukah jodoh dalam pandanganmu, aku tersenyum tak menjawab apapun sambil mengalihkan pandangan menatap dedauan yang menari tertipu angin- mau menunggu sampai kapan? Kamu jangan pilah pilih nanti nggak akan menikah, saran seperti itu yang selalu aku dengar, aku cuma tersenyum menutupi hati yang kecewa, niat hati ingin duduk saja sambil menikmati udara sore, tapi apa mau dikata seorang yang dianggap dewasa dan mampu memberi solusi justru mengatakan itu sebelum aku sempat berbicara. 

Kamu itu sudah tua, menunggu apalagi? Aku masih tersenyum tak menanggapi, nun di depan sana bunga  kuncup seakan malu mendengar perkataan itu- Tapi aku sudah berusaha, Allah belum memberikan ? aku menjawab berharap dia akan diam- Kamu itu terlalu pemilih- aku sekali lagi diam lalu menatap punggungnya dari belakang, dia berlalu begitu saja seolah berkata dan pergi tampa hati..

Aku menunduk, menekuri sandal hitam milikku yang sedikit kotor oleh tanah, Allah apakah sekotor itu hatiku hingga kau masih belum mau memberikan satu saja untukku.... Jika suatu ketika kau beri, aku akan jaga baik-baik ya Allah. 

Jika saja aku bisa memillih pada siapa jatuh cinta pasti tak akan rumit, tak akan sulit- Tapi aku bisa apa, semua ini di luar kekuasaanku, kata ustadz cinta itu keterpaksaan bukan pilihan, kita tak bisa memilih pada siapa hati akan terpaut. Sekali lagi aku menunduk



 

Sepotong Harapan

 

Tulisan ini aku buat sebagai pengingat, bahwa sampai saat ini aku masih mempunyai harapan, Allah. Ketika semua orang meninggalkan, ketika semua orang tak bisa memberi bantuan, ketika semua orang tak peduli, ada Allah tempat berharap, ada Allah yang tak pernah meninggalkan, ada Allah yang bisa menolong, dan ada Allah yang selalu peduli. Ketika usaha membentur kemustahilan seperti saat ini, masih ada Allah yang baginya tak ada yang mustahil. Berusaha kemudian berharap pada Allah. Itu saja.

Saat ini aku belum tahu akan bagiamana, aku tak bisa membaca masa depan, cuma bisa berharap dan berdoa semoga Dia mengabulkan, kalau tidak kepadaNya kepada siapa lagi harus berharap, kepada siapa lagi harus meminta? 

Tapi keyakinan haru dipupuk dengan susah payah agar tumbuh lalu bertunas,iman seorang berbeda beda yang dapat dilakukan adalah terus dan terus berusaha, memupuk keyakinan padaNya sedikit demi sedikit, terus menerus karena pada hakikatnya kita tak bisa menjalani hidup tanpaNya.



 

Resah

 


Apakah yang dapat dilakukan ketika hati resah? Jalan-jalan, kebut-kebutan, shoping, nonton atau yang lain? Tiap orang punya jawaban yang berbeda, si A mungkin ini, si B mungkin itu, karena tiap orang itu berbeda. Demikian juga dengan aku dalam mencari jawaban atas segala keresahan yang ada, tentang hal yang membuat hati tidak tenang.

Tapi tahukah kamu kalau resah itu adanya di dalam hati? Aku yakin kamu tahu artinya, namun maknanya belum tentu semua tahu. Jika keresahan itu datang dari hati dibawa kemanapun sama saja cuma berpindah tempat saja, sementara keresahannya akan terus ada, karena pada dasarnya keresahan itu dari hati, dengan alasan berbeda tiap orang. 

Jika kamu tanya pada orang bagaimana cara mengatasi keresahan akan kamu jumpai jawaban yang berbeda ada yang mungkin jawabannya cocok denganmu ada juga yang tidak. 

Dahulu, aku sering melabuhkan lewat perjalanan, berkendara dengan sepeda motor menempuh jarak yang jauh, ke mana saja yang penting keresahan bisa hilang. Kadang sampai menyeberang Provinsi kalau suasana hati tidak bagus, kalau persoalan sudah demikian menghimpit maka jarak yang jauh bukanlah menjadi masalah, sepanjang jalan keresahan itu mengikuti, bahkan ketika tangan menarik gas penuh untuk mendapatkan kecepatan maksimal. Keresahan tidak terbang terbawa angin lewat 120 Km/ Jam.

Jujur saja saat resah kemampuan dalam bersepeda motor tinggal separuh, yang separuh lagi hilang untuk mencari solusi permasalahan, namun yang separuh itupun sudah bisa membawaku lintas provinsi. Apakah aman? Tentu saja tidak, apa jadinya kalau memacu motor tanpa akal sehat? Apa jadinya jika ada begal atau semacamnya, yah meski jujur kalau dalam kondisi pikiran resah hal semacam itu luput dari pertimbangan. Namun kadang kita perlu sedikit berpikir jernih, bagi kita mungkin tak masalah, tapi bagaimana dengan orang tua, tidakkah mereka khawatir? Jadi pikirkanlah.

Setelah perjalanan tidak memberikan solusi aku mencari jawaban lewat motivator, mendengarkan dengan baik dan mencobanya, sedikit berhasil awalnya kegelisahan dan keresahan sedikit hilang. Aku tak bermaksud mengatakan kalau motivator tidak memberikan solusi, tidak demikian. Awalnya perasaan tenang, tapi entah kenapa jauh di sana, di dalam hati ada sesuatu yang mengganjal, seakan ada yang kurang, tapi apa? 

Bertanya pada orang pun demikian, seperti yang aku katakan tadi, pada awalnya tenang, seakan persoalan hilang namun tak lama datang lagi karena memang pada dasarnya persoalan belum selesai, lalu bagaimana? jauh berjalan, jauh melewati perputaran waktu, bertahun tahun baru aku menemukan jawabannya, jawaban yang sesuai dengan hati, tak ada keraguan.

Aku seorang muslim, aku beragama Islam, lalu kenapa selama ini aku mencari jawaban ke mana mana ? Itu juga ada ceritanya. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba ada keinginan untuk mencari youtube dan membuka vidieo ceramah, aku menelusuri satu persatu, mencari yang sekiranya cocok, baik penyampaiannya atau yang disampaikan, lalu sampailah aku pada ceramah ustad yang berpenampilan nyentrik, beda dengan ustadz lain, dia tidak berkopiah tapi justru memakai kupluk, tapi apa yang disampaikan cocok sekali dihati, semua pertanyaan yang dulu membuat gelisah mendapatkan jawabannya oleh Allah. Agama. Semuanya ada dalam Islam, itu yang aku baru tahu belakangan, mungkin dulu aku terlalu jauh hingga Allah menegur untuk kembali. Aku kemudian mendengarkan banyak ceramah dari ustadz ini, Ustadz Hanan Attaki. Tentang keyakinan pada Allah, tentang doa, dan lain lain. Aku juga menemukan lagi ustadz dengan pemahaman Al Quran yang bagus, penyampaian tegas tanpa ragu, Ustadz Adi Hidayat.  Ustadz dengan penampilan sederhana tapi ilmu yang sangat bagus. 

Jadi selama ini aku ke mana? Entahlah.

Lalu apakah aku berhenti berkendara, tidak. Aku justru mendapat pemahaman baru tentang Islam, kita tetap bisa berkendara tapi kali ini bukan membawa keresahan, tapi berkendara sambil memahami kebesaran Allah, lewat pemandangan alam yang menakjubkan, Laut, Gunung, pantai yang membentang dan hal lain yang sudah pasti ada yang menciptakan, Allah. 

Pantai

 


Ombak itu berdebur, seakan mencoba memecahkan batu karang yang keras, kembali ke laut kemudian datang lagi dengan hempasan yang sama, selalu begitu entah sampai kapan. Lelaki itu duduk menatap laut, kemudian beralih pada beberapa orang yang berjalan atau bermain dengan pasir dan ombak, wajah mereka tersenyum bahagia, seakan tak pernah ada masalah dalam hidupnya. Ia tahu masalah akan ada selama kehidupan masih ada, selama seorang masih hidup selama itu akan ada masalah, dua hal yang tak dapat dipisahkan. Ia menyadarinya namun terkadang kelemahannya sebagai manusia masih melupakannya juga. Tapi ia selalu berusaha agar selalu ingat dengan hal itu. Masalah sebagai ujuan seorang agar bertambah kuat dalam mengarungi kehidupan di masa datang, meski kesadaran akan itu datang ketika masa sudah jauh terlampaui.

Ia bangkit dari duduknya, kemudian berjalan, kakinya memijak pasir yang lembut, sebagian masuk ke sela sepatu yang dikenakan. Angin laut membelai wajah, seperti belaian seorang ibu yang lembut pada anaknya. Ia sendirian, berjalan terus menyusri sepanjang pantai, mencoba memahami banyak kejadian tak terduga dalam hidupnya, mencoba menguak arti di baliknya, tapi tak pernah bisa. Segalanya masih menjadi rahasia, rahasia yang hanya Allah yang tahu, apakah yang ada di depan sana. 

Langkahnya terhenti, kakinya menginjak cangkang kerang, dipungutnya kemudian diamati, kosong. Ia tersenyum, ya kosong seperti hatinya saat ini, kekosongan yang membuatnya sering sekali bepergian. Tapi ia tak pernah menyalahkan takdir, ia percaya akan segala KemahaanNya. Dilemparnya cangkang itu ke laut sejauh yang bisa dilakukan, cangkang itu jatuh ke laut tapi tak seberapa jauh, meninggalkan percikan air yang kemudian hilang. Cangkang itu tak kelihatan lagi.

Lelaki itu duduk, mengambil bekal makananya, sebungkus nasi Padang dengan lauk ikan bakar berdoa,  sebelum menyantap makanan itu dengan penuh rasa syukur. Botol minuman dikeluarkan  dari dalam tas hitam yang selalu dia bawa, air mineral ukuran setengah liter, cukup untuk perjalannya kali ini, kalau kurang mungkin ia akan singgah ke kedai yang menjual kepala muda.





CBR 150 Repsol Thailand dan Sedikit Cerita Dibaliknya


Kenapa yang dipajang bukan foto CBR? Belum ada, ketika aku menuliskan ini, foto itu belum ada. Semoga ini tak membuatmu berhenti membaca dan pergi meninggalkan halaman ini. Kenapa aku membeli motor ini? Aku menyukai bentuknya, dan tentu saja ketika membelinya kecepatanlah yang menjadi pertimbangan lain, waktu itu dengan anggaran yang dimiliki hanya CBR 150 itulah yang masuk akal, motor 250 cc belum terjangkau bahkan sampai sekarang. 

Kalian tahu, aku tipe orang yang suka berkendara, melakukan perjalanan tanpa tujuan sekedar melepaskan kegelisahan yang tidak bisa diceritakan, tentu saja berkendara dengan baik dan taat aturan, nyawa kita cuma satu tak pantas dipertaruhkan di jalanan apalagi berkendara ugal-ugalan yang membahayakan orang lain. 

Aku mulai saja ceritanya agar kamu tak terlalu bosan 

***
Lelaki itu memacu motornya dengan kecepatan sedang 50 Km/ Jam, melintasi jalan di Kota Wonogiri, tempat ia lahir dan dibesarkan, Kota yang menyimpan kenangan terlalu  banyak kenangan, hingga kadang hatinya seakan tak mampu menyimpan, ketika itulah ia memilih berkendara, menantang panas atau menerobos titisan hujan. Jalanan ramai, ia harus jeli dengan keadaan kemudian menyalip ketika keadaan aman. Motornya meraung ketika dia menambah kecepatan 90 Km/ Jam, kecepatan yang baginya biasa saja, Motor itu melaju membawa hatinya yang sunyi melintasi jalanan kota yang sekarang sudah rapi, ke mana tujuannya? Masjid. Ia sering singgah di Masjid, Rumah Allah yang baginya menjadi tempat paling meneduhkan, meneduhkan hatinya yang sering gelisah. Dan di depan sana ada Masjid, ia menyalakan sein kiri kemudian mengarahkan motornya ke Masjid dengan cat hijau tua, Masjid kecil yang rapi dan bersih. Sekarang tengah hari, sebentar lagi Adzan Duhur. Lelaki itu memarkirkan motornya, kemudian mengambil air wudhu, memasuki masjid dan menghamparkan sajadah yang selalu dia bawa kemudian shalat sunah dua rakaat, hatinya penuh harap, harap pada sang maha pencipta pada Dia yang menggnggam segalanya. Tepat setelah ia sselesai sholat sunah seorang pria tua dengan kopiah putih masuk Masjid, mengangguk padanya kemudian Adzan, suaranya tidak begitu merdu tapi mampu menggugah hati untuk segera hadir memenuhi panggilanNya.

Jamaah cukup banyak yang hadir, satu shof penuh, isinnya orang tua tak ada anak muda di sana? Ke mana mereka? Terlalu sibukkah hingga melupakan panggilanNya? Sholat selesai, namun lelaki itu masih duduk berdzikir, kemudian berdoa, meminta pada Sang Wahab pengabul segala keinginan. Jamaah Masjid sudah pulang tinggal dia sendiri yang ada di sana. Ia mengambil motor kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Pantai

 

Asma Nadia, Aveus Har Tentang Janji dan Tujuan Menulis

 


Aku akan mulai bercerita, menuliskan sesuatu yang mungkin menarik bagi kalian. Ini tentang perjalanan, tentang cerita, tentang kisah yang mungkin baru bagimu. Bukan semacam kisah di sinetron yang sering kalian saksikan, menjual harapan yang sebenarnya tidak sesuai dengan kehidupan. Sekarang dengarlah cerita yang akan aku tuliskan, dengarkan lewat hatimu, bacalah. Aku masih ingat dengan jelas waktu dulu berjanji pada penulis terkenal, Asma Nadia, kalian kenal bukan ? Penulis yang bukunya tersebar di toko buku Nasional? Aku menyebutnya Bunda Asma Nadia. Dulu aku berjanji padanya untuk tidak berhenti menulis ketika dulu masih belajar di Komunitas Bisa Menulis di Facebook yang dikelola suaminya, Isa Alamsyah. Apakah aku menepati janjiku? Tentu, bagiku janji adalah sesuatu yang harus ditepati, bukan diumbar semaunya tanpa berpikir. 

Kalian tentu bertanya, buku apa yang telah aku tuliskan? Aku jawab tidak ada, atau belum karena aku tak pernah tahu apa yang ada di depan sana, apakah tulisanku dibaca orang atau bahkan tida sama sekali, tak ada yang tahu.Kalian tahu, perjalanan seorang penulis itu berat, sangat berat, mempunyai tulisan bagus belum tentu berhasil, apalagi tak dikenal orang, siapa yang mau baca coba? Ditambah lagi sekarang jamannya Vlog lewat youtube yang lebih mudah menghasilkan dibanding menulis, sekarang coba hitung berapa banyak orang yang menghabiskan waktunya dengan menonoton Youtube, sebandingkah dengan para pembaca di Wordpres atau Blogger? Aku tidak menyebut berita nasional  karena itu hal yang berbeda. 

Seorang teman dari pekalongan pernah mengatakan padaku, kalau dia menulis agar tidak menjadi 'gila', namanya Aveus Har, nama pena tentunya, beliau telah banyak menerbitkan buku, menulis lewat hp android yang bagi kalian kekecilan, tapi bagi Aveus Har sudah cukup justru dengan Hp itu dia bisa menghasilkan banyak karya, FERGULOS, SEJUJURNYA AKU,SORRY THAT I LOVE YOU dan masih banyak yang lain, lihatlah dia dengan Hp sederhana bisa menghasilkan karya sebanyak itu, lha kita? 

Dulu aku bingung, kenapa Mas Har, aku menyebutnya untuk Aveus Har, ketika dia mengatakan menulis agar tidak menjadi 'Gila', aku bertanya dan akhirnya baru menemukan jawabannya sekarang. Ada keadaan di mana tidak bisa mengatakan atau menceritakan pada seseorang tentang suatu keadaan, mungkin seperti itu yang dirasakan Aveus Har dan dia memilih menuangkan lewat buku. Lalu aku? Aku menulis karena gelisah, gelisah karena keadaan yang sudah pasti tidak mungkin dikatakan pada orang, dan menulis apapun itu sedikit melegakan. jadi menulis agar hati menjadi lega? Bisa jadi iya. Bingung ke mana mencertakan kegelisahan dan keresahan dan menulis bisa menjadi sedikit solusi, karena solusi yang sebenarnya adalah meminta dan bercerita pada Allah Swt. 

Catatan Rindu

Aku duduk menggigil, menahan dingin yang menusuk kulit namun tak jua bisa udara dingin seakan memaksa masuk dan menancapkan jarum di kulit. ...