Kamis, 15 Januari 2015

Cerpen,Kapan Menikah,Le?

“Kapan kamu nikah,le?”Tanya bapak sambil membersihkan singkong yang selesai dibakar.

Aku menunduk,sekilas aku melirik kearah Bapak yang mengambil minyak kelapa kemudian meneteskan sedikit melalui tengah-tengah singkong itu,kemudian membelahnya menjadi dua,terlihat asap tipis mengepul,aku menelan ludah,antara kaget dengan pertanyaan bapak dan tertarik dengan singkong  bakar bapak.

“Belum tahu Pak,aku masih ingin konsentrasi ke pekerjaan dahulu”jawabku sambil menerima separuh singkong yang diangsurkan Bapak,ah baunya harum,aku menggigtnya sedikit,enak.

“Jangan nyari uang terus to,le,teman-temanmu sudah banyak yang menikah,apa kamu ndak pengen seperti mereka?”Bapak bertanya sambil menatapku yang menunduk.

Bagaimana cara menjelaskan pada Bapak.Aku sebenarnya juga pengen menikah Pak,hanya saja selama ini usahaku selalu saja kandas,rata rata mereka bilang aku terlalu baik untuk mereka.Kalau aku terlalu baik kenapa justru di tolak?aku masih tak habis pikir dengan alasan yang satu itu,kalau orang baik kenapa ditolak?apa aku harus jadi jahat dulu baru diterima.

“Sebenarnya pengen juga Pak hanya belum ketemu yang cocok dihati”aku menjawab sambil memutar gelas kopi yang aku pegang.

“Jangan terlalu pilih pilih to le,cari saja yang agamanya baik,dan orangnya gemati Insya Allah kamu akan bahagia”kata Bapak perlahan,mungkin bapak cemas juga karena sampai usiaku memasuki tiga puluh masih kelihatan belum ada tanda-tanda akan menikah.

“Iya,pak doakan saja aku mendapatkan istri yang baik dan gemati ya”

“Bapak akan selalu mendoakan kamu,le.Bukan maksud Bapak menyuruhmu buru-buru menikah,Bapak hanya mengingatkan saja”Kata bapak sambil menambahkan kayu kedalam perapian.

Aku dan bapak memang biasanya duduku didepan tungku dipagi hari sambil menunggu sarapan siap,kadang Bapak membakar singkong seperti ini,setelah sarapan biasanya Bapak berangkat kesawah sementara aku berangkat kerja dibengkel sepeda motor milik suami mbakyu ku.

Beberapa lama kami terdiam,aku merenungi apa yang dikatakan Bapak,dan Bapak kelihatan juga sedang memikirkan sesuatu.

Kami segera bangkit ketika ibu memberitahukan kalau sarapan sudah siap.Kkami kemudian sarapan sementara ibu sibuk membujuk adikku yang memang sangat sulit disuruh sarapan.

Kami makan sambil sesekali bercakap,namun Bapak sudah tidak menyinggung masalah nikah,aku sedikit lega,yang bapak singgung adalah masalah anak muda yang hampir semuanya tak mau bertani dan pergi merantau ke pulau lain untuk bekerja,memang tidak bisa disalahkan,Desa kami memang tak menjanjikan kemungkinan yang baik untuk memenuhi standar kebutuhan jaman sekarang,tapi apa yang dikhwatirkan bapak juga cukup beralasan,kalau mereka semua merantau lantas siapa yang akan menggarap sawah ladang kalau orang tua sudah tak mampu lagi mencangkul?

Selesai sarapan,Bapak rupanya masih dirumah,katanya hari ini mau memperbaiki atap kandang sapi yang bocor tertimpa dahan kayu yang patah,dahan itu memang sudah lapuk ditambah semalam hujan disertai angin kencang,jadilah kandang sapi kami kebanjiran.

Aku menawarkan bantuan pada Bapak untuk membantu memperbaiki atap yang rusak itu,namun Bapak bilang agar aku kerja saja,kasihan kalau Mas ku kerepotan katanya,menjelang puasa memang bengkel ramai ramainya karena anak muda yang merantau sudah pada pulang,biasa rutinitas perantau,sepuluh bulan diperantauan dan dua bulan dirumah.


Aku kemudian berangkat kebengkel untuk bekerja seperti biasanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Berkomentar