Selasa, 16 Desember 2014

Nasi Tiwul Dan Kesederhanaan Petani Wonogiri

Orang banyak mengatakan kalau wonogiri itu identik dengan gaplek,tahu bukan apa itu gaplek?gaplek adalah singkong yang dikupas kemudian dijemur hingga menjadi kering,setelah ngomongin masalah gaplek maka selanjutnya tak akan jauh dari nasi tiwul,nasi yang dibuat dari gaplek yang diolah menjadi tepung,prosesnya bisa dengan cara lama,ditumbuk menggunakan alat tradisional atau digiling menggunakan mesin.

Nasi ini mempunyai rasa yang khas dan enak,apalagi kalau digoreng dan dijadikan sarapan pagi dengan lauk ikan asin,hmmmm,rasanya sungguh nikmat,maaf aku tak bisa menyertakan foto nasi tiwul dari daerahku soalnya saat ini aku merantau di Pekanbaru,nanti deh kalau aku sudah kembali ke Desaku yang tercinta aku akan membagikan foto untuk kalian semua.Sekarang bayangin saja rasanya nasi tiwul itu sambil menghayalkan diri kalian makan diantara hijaunya sawah dan sejuknya udara pedesaan.

Sebenarnya hidup didesa itu sangat menyenangkan,alam yang asri,masyarakat yang jujur dan ramah,suasana kekeluargaan yang kental membuat orang yang tinggal disana merasakan ketenangan yang tak didapatkan dari kehidupan dikota yang penuh dengan polusi dan padatnya aktivitas. 

Hanya saja di desa agak sulit mendapatkan uang,mereka yanng menggantungkan hidupnya seratus persen dari pertanian jarang yang bisa membeli ini itu,kecuali orang –orang tertentu yang memiliki sawah luas atau tanaman tertentu yang harga jualnya cukup tinggi,bukan padi lho ya tapi cengkeh,hanya saja cengkeh hanya berbuah satu kali dalam setahun.

Namun umumnya masyarakat didesaku hidup dalam kesederhanaan,sawah yang dikelola hanya cukup untuk menopang kehidupan harian saja,tidak untuk yang lain,harga jual padi yang rendah dan harga pupuk yang mahal menjadi salah satu penyebabnya,dari dulu petani di desaku tak pernah mendapatkan keuntungan apapun dari pergantian pimpinan di negara ini.

Mungkin ada diantara kalian yang sempat singgah di desa bertanya tanya,kalau kehidupan mereka sesederhana itu bagaimana mungkin dapat membeli motor baru,mobil,dan gadget yang harganya cukup mahal itu,jawabanya satu mereka mendapatkan itu bukan dari hasil bertani namun dari hasil keberanian mereka merantau kedarerah lain,bahkan pulau lain mnencoba peruntungan dengan berdagang,ada diantara mereka yang berhasil namun ada juga yang kurang beruntung,mereka yang berhasil biasany akan bekerja di perantauan kemudain pulang setahun sekali saat hari raya lebaran tiba,setelah hari raya mereka biasanya akan kembali kedaerah dimana mereka merantau.

Dan mereka yang kurang beruntung,ada yang mencoba lagi didaerah lain taoi ada juga yang memutuskan kembali ke desa dan menjadi petani atau membuka usaha didesa.


Nah,itulah sedikit gambaran tentang kehidupan di desaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Berkomentar