Senin, 31 Maret 2014

Petani Desa Ngernak

Aku ingin bercerita,mahukah kaian mendengarnya?bukan tentang percintaan atau kisah kesedihan,namun hanyalah kisah tentang kehidupan yang sederhana,kehidupan desa diantara sawah dan sungai,kalau kalian ingin mendengarkan duduklah dengan manis,tak perlu kalian merasa was was kalau kalau ada cerita yang menyeramkan

Duapuluh tahun yng lalu desa kami sangat asri dengan banyak pohon dan udara yang dingin,kalau malam hari kami ingin keluar rumah,kami akan memakai jaket atau berkain sarung,dan kalau udara sangat dingin biasanya kami akan membuat api unggun di pinggir jalan atau di pojok halaman,obrolan hangat pun terjadi sambil duduk mengelilingi api unggun,biasanya yang sering dibicarakan adalah masalah tanaman padi dan binatang ternak.

Namun kalau yang duduk duduk banyak anak mudanya maka obrolan tentu saja menyangkut gadis remaja,jangan bandingkan dengan sekarang,dulu kalau membicarakan anak gadis, malunya bukan main apalagi jika yang disinggung kebetulan adalah gadis yang disukai,kami akan menunduk dan sedikit bicara takut kalau mengatakan sesuatu yang salah hingga ketahuan kalau menyukainya.

Kalau obrolan agak lama salah seorang biasanya mempunyai gagasan untuk membuat makanan tak perlu mewah,apa saja yang ada.Kalau pas adanya jagung kami mengambil jagung,kalau adanya singkong kami akan mencabutnya dari tempat yang dekat dari kami berkumpul,namun tentu saja setelah meminta ijin pada yang punya.Pemilik tanaman akan dengan senang hati mengijinkan tak ada rasa eman kalau hanya untuk dimakan. 

Kami juga tidak berlebihan,hanya akan mengambil seperlunya saja.Kalau haus salah seorang yang rumahnya dekat akan pulang untuk mengambilkan minuman tak perlu yang manis sekedar air putih saja sudah cukup.

Keramahan dan kesahajaan petani di desaku sering kali membuatku takjub,dalam keadaan apapun mereka tetap bekerja meski hasilnya tidak seberapa,bagi mereka bekerja adalah sebuah kemuliaan,sekecil apapun kalau itu menyangkut pekerjaan pasti akan sangat dihargai,para ibu pun mendidik anaknya untuk bekerja,mereka menanamkan prinsip itu semenjak kecil,sering kali ada anak kecil sudah menyabit rumput atau mencangkul,terkadang memikul sedikit padi di pundaknya,itu hal yang wajar dijumpai di desa kami.

Anak anak gadis tak segan untuk turun kesawah dan membiarkan kulit mereka terkena lumpur,biasanya mereka akan kesawah kalau musim panen dan tanam tiba,kalau musim panen para wanita yang menyabit padi dan mengumpulkannya sementara para lelaki bertugas memikul sampai kerumah,kalau musim tanam para wanita biasanya akan menanam padi yang dinamakan tandur,sementara para laki laki yang mencabut bibit padi dan mengikatnya agar mudah disebar di tiap bedengan sawah,kalau didesa kami dinamakan ndaut.

Hal yang paling menyenangkan adalah saat makan atau sarapan karena biasanya makanan akan diantar kesawah oleh seorang atau dua orang wanita.Kalau dari jauh kelihatan ada yang berjalan menggendong bakul dan menenteng ceret atau kendi kami akan memandang dengan tersenyum,sudah waktunya makan,hidangan yang diantarkan pun sangat sederhana,hanya nasi putih,sambal,sayur buncis atau gori dengan gudangan/kleman namun karena kami menyantapnya disawah bersama sama maka rasanya menjadi sangat nikmat.


Begitulah sedikit cerita hari ini,sampai ketemu dengan cerita sederhana lainnya ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Berkomentar