Minggu, 30 Maret 2014

Ternyata Mencangkul Itu Berat Sobat

Dahulu aku sering diajak mencangkul oleh ayahku,beliau memberikan cangkul kecil dengan tangkai,kalau didesa kami namanya doran.Doran itu dibuat sepenuh hati oleh ayahku,permukaannya dihaluskan dengan amplas,takut kalau tanganku ketika menggunakannya.Setelah jadi dicobanya,kalau dirasakan nyaman dipakai barulah diberikan padaku.

Aku menerimanya dan ikut berangkat kesawah dengan ogah ogahan,aku masih ingin melihat acara kartun di minggu pagi.Biasanya aku setengah hari akan duduk didepan tv sambil menunggu makan siang,namun hari itu aku malah diajak kesawah,hmmm fikiran anak anakku masih belum bisa memahami maksud ayahku,aku hanya berfikir ayahku tak memahamiku,padahal acara janperson sedang seru serunya,ada duel janperson vs bilgodi setelah itu ada dragonball goku vs picolo.

Aku mengkikuti ayah dari belakang sambil menggerutu dalam hati,masih belum rela meninggalkan acara kartun favoritku hiks hiksL.Perjalanan kesawah menempuh jarak sekitar duapuluh menit,melewati sungai,kemudian naik dilereng bukit setelah itu lurus melewati jalanan sempit di pinggir sungai,aku jadi tertegun kalau jalan tanpa beban  saja begini sulit bagaimana jika sambil memikul padi?Ada yang berdesir dalam hatiku,ah alangkah teganya aku duduk manis dirumah sementara ayahku memikul padi,mataku agak basah namun aku hapus diam diam aku tak mau ayahku tahu.

Beliau menoleh padaku sambil tersenyum.karena aku agak ketinggalan,aku kemudian mempercepat langkahku agar dapat berjalan beriringan,tak lama kemudian kami sampai disawah.

Aku memandangi petak demi petak dengan bingung,darimana harus memulai,dari tanggul atau tengah,dan bagaimana caranya membuat tanggul yang baru?.Ayah seakan mengetahui kebingunganku,beliau lalu berjalan ke pinggir dan memperbarui tanggulnya lebih dahulu,baru setelah tanggul selesai beliau mulai mencangkul dibagian tengah,aku memperhatikan dengan seksama,kayaknya kok mudah tapi,begitu aku coba ternyata sulit,aku tak berhasil membuat tanggul,akhirnya ayah menyuruhku mencangkul dibagian tengah saja yang lebih mudah..hmm kalau yang ini tak begitu sulit,hanya saja baru sebentar kok capek sekali rupanya aku terlalu bersemgangat hingga cepat capek,beliau kemudian menjelaskan kalau mencangkul itu pelan pelan saja agar tidak mudah capek,oo begitu tak kira asal saja ternyata ada tekniknya juga ya..namun ternyata aku tak bertahan lama sekitar jam sepuluh aku kecapekan,ayah kemudian menyuruhku pulang dahulu sementara  beliau masih akan menyelesaikan satu petak itu dahulu.

Aku mencuci cangkulku disungai sementara bajuku aku biarkan kotor penuh lumpur biar kelihatan kalau habis mencangkul hehe

Ternyata pekerjaan ayahku sangat berat,aku sendiri tak tahu kalau saat dewasa sanggup mengolah sawah dengan cara itu.aku berjalan pulang sambil merenung,dalam hati aku berjanji akan rajin belajar untuk menghargai kerja keras beliau.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Berkomentar